Rabu, 15 September 2010

Klasemen Akhir Lomba Nasional 2010

Burung - Joki - Pemilik - Asal - Ring - Point

1. Viera - Jujun - Abay - Tasik - PALEM - 373.6
2. Torres - Ady - THI - Jakarta - KAWASAKI - 314.6
3. Bintang Alas Roban - Dadan - HMR - Jakarta - HMR - 310.5
4. Jaguar - Opic - Jaguar - Bandung - LION - 307.5
5. Martini - Pepep - Sapto - Jakarta - ABIZAR - 280
6. Marere - Kancil - WS - Jogja - HAMMER - 264
7. Greenville - Ady - THI - Jakarta - FONDA - 245.5
8. Kelana 6 - Jono - H Suyitno - Bandung - KELANA - 220
9. Rencong - Muksin - Johan - Jakarta - INOVASI - 203.3
10. New Casper - Wardi - Budi Handoyo - Bandung - MONSTER - 190
11. Hipnotis - Muksin - Johan - Jakarta - INOVASI - 172
12. Galaxy - Iyan - Jaguar - Jakarta - JAGUAR - 166
13. Bintang Hoki - Jack - Hoki - Bandung - HOKI - 160
14. SJ - Jujun - Nyo Nyo - Bandung - SINAR HARAPAN - 160
15. Scudetto - Dockar - Top Song - Bandung - 150
16. Douglas - Dwi - Pekwang - Semarang - LEONARD - 130.8
17. King Kobra - Jamal - Jamal - Pamekasan - 126.6
18. New Pasopati - Dwi - Pekwang - Semarang - LEONARD - 120
19. Pedro - Jujun - Abay - Tasik - PALEM - 120
20. SGB - Chacha - Eko Bismo - Solo - BISMA BOY - 114

Selasa, 09 Februari 2010

Jamu untuk mengembalikan stamina dan power

CABUT TELOR :
1. SPET : air perasan kunyit 4 sendok makan bisa lebih tergantung burung, 1 sendok teh kencur, 1 sendok teh temu kunci, 1 sendok teh sakatonik liver, 1/2 botol royal jeli ginseng.
2. setiap jemur pagi antara jam 7 - 10 beri makan kacang tanah 7 (tujuh) butir, kemudian beri makan jagung, kacang hijau, beras merah dan kedelai ditempat makannya.
3. beri minyak ikan 2 hari sekali + kalsium 1/4 selama mengeram dan hari selasa setelah cabut telor.
4. Hari kamis - senin pada saat dijemur menjelang dilatih beri yansen bubuk + kuning telor bebek yang sudah diramu bentuk butiran kecil2 sebesar biji kacang hijau, beri satu butir sebagai penguat nafas. (untuk program latihan sudah dibahas diforum lain)
5. Dilapangan tetap diberi makan walau hanya sedikit sebagai sumber energi.
6. Pemberian minum dilapangan jgn dibatasi karena ciri2 burung sehat dan siap tempur minum akan berhenti sendiri bila merasa cukup dan kotorannya keras yang menandakan merpati tersebut sudah siap untuk dilombakan.
7. Jgn sekali - kali mengikutkan lomba, burung yang kotorannya pada saat dilapangan main keluar air / mencret.
8. Setelah bertelor tetap dispet seperti diatas.
9. Hari rabu malam sebelum kamis dilatih beri livron B-plek setengah.
10. setelah dicor hari senin beri tie ta wan sebesar jagung + livron 1/2 utk mengembalikan setamina.
11. Setiap habis dilatih tetap diberi jamu untuk terbang (utk jamu silahkan lihat forum yang sudah ada).
Mengeram :
1. Setiap pagi tetap lakukan penjemuran antara jam 7 - 10 dgn diberi kacang tanah 7 (tujuh) butir.
2. Beri kalsium 1/4 + minyak ikan 2 hari sekali jantan dan betina.
3. Untuk betina geberan pemberian minyak ikan setiap hari lebih baik, kecuali pada saat dilatih betina geberan diberi kalsium 1/4 setiap hari (kamis - senin)
Sekian terima kasih semoga bermanfa'at.....

Selasa, 08 Desember 2009

memilih merpati balap lewat bentuk fisiknya

Sebelumnya perlu dipahami dulu bahwa anatomi (kita sebut saja onderdil) merpati hanya salah satu faktor yang berkontribusi terhadap kinerja merpati seperti yang telah dibahas sebelumnya. Selain itu, banyak yang berpendapat bahwa onderdil merupakan "keunikan" dari setiap strain merpati. Ini artinya kita tidak bisa membuat suatu generalisasi yg berlaku umum bahwa onderdil yang bagus adalah bla..bla..bla. Sebagai contoh , iris mata strain Janssen pada umumnya lemah dan kurang bagus, tetapi ternyata iris yg kurang bagus ini bukan kelemahan untuk strain Janssen. Ada strain tertentu yg juga punya pupil tidak bulat, tetapi sedikit lonjong. Tapi ternyata pupil yg tidak bulat tersebut bukan kelemahan dari strain tersebut. Oleh karenanya, jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan bahwa suatu burung jelek karena ada salah satu onderdilnya tidak memenuhi standard yang umum berlaku. Kita perlu melihat onderdil merpati secara menyeluruh.




Berikut ini saya sarikan ciri-ciri merpati yang baik menurut Joseph Rotondo. Bagi yang punya buku "Rotondo on Racing Pigeon" bisa dilihat di chapter 4 yang berjudul "selection of Superior Birds". Saya pribadi, tidak sepenuhnya sependapat dengan apa yang ditulis oleh Rotondo, tetapi silahkan dikaji sendiri.



1. Daging.......Dagingan yg dianggap baik adalah yg lembut dan fleksibel seperti balon yang ditiup. Dagingan yang seperti ini mengindikasikan bahwa burung tersebut memunyai "air sacs" (kantong udara) yang bagus. Air sacs berada di seluruh badan burung, tapi yang terpenting adalah pada bagian dada. Kalau kita pegang pada dada dengan jari, maka akan terasa seperti mainan anak-anak yg terbuat dari karet (kenyal).

Dengan adanya air sacs yg baik maka cadangan oksigen dalam tubuh cukup banyak dan akan membuat merpati mampu terbang lebih jauh. Sebaliknya, dagingan yang keras menunjukan bahwa burung tersebut air sacs-nya kurang bagus dan cepat kehabisan nafas.



2. Ukuran Badan.......Sudah pernah disinggung oleh Om Henry, bahwa burung long distance sebaiknya tidak terlalu besar dan kalau dipegang terasa ringan dan burung type sprinter lebih berotot. Sebenarnya sprinter bisa saja ukuran kecil atau sedang, tetapi bila angin cukup keras, ukuran badan yg lebih besar lebih menguntungkan bagi sprinter.



3 Tulang Dada...... Tulang dada (keel) bisa dilihat dengan menyibakkan bulu yg ada di dada. Untuk burung type sprinter, tulang dadanya lebih tipis. Untuk menentukan tebal-tipisnya tulang dada, bisa dilakukan dengan membandingkan tulang dada sprinter dan long distance. Dari situ, lama-lama kita akan dapat membedakan tulang dada yang tebal dan yang tipis.



4. Capit Udang.......Burung type sprinter capit udangnya lebih lebar dibandingkan dengan long distance. Untuk belajar membedakan kerenggangan capit udang juga bisa dilakukan dengan sering membandingkan capit udang sprinter dan long distance. jarak (ruang) antara ujung tulang dada bagian belakang dengan capit udang pada burung type sprinter lebih sempit dibandingkan dengan type long distance (jaraknya sekitar 2 jari). Burung type long distance memerlukan rongga yang lebih besar karena burung yang menempuh jarak jauh beberapa organ bagian dalam akan membesar sehingga diperlukan ruang yg lebih besar agar bisa mengakomodir organ tubuh yang membesar.



5. Pinggang.......Banyak pemain merpati yang tidak bida membedakan pinggang yang baik dan yang jelek. Pinggang yang baik adalah yang rata dan padat (flat and solid). Untuk mengetahui pinggang, bisa menggunakan jempol lalu sedikit ditekan dan diurut dari depan hingga tulang ekor. Tulang dada harus rata dan tidak boleh bergelombang. Kalau jempol kita urut terus sampai ke tulang ekor, maka tidak boleh ada celah yang curam ("njeglong"), tetapi sebaiknya lurus atau sedikit melengkung dibagian belakang pinggang. Untuk jenis sprinter, sebaiknya antara pinggang dan tulang ekor sebaiknya rata (seperti nyambung).

Untuk long distance, semakin besar (lebar) pinggangnya, semakin baik.



6. Sayap....... Untuk jenis sprinter, sayap lebih pendek dari jenis long distance. Untuk burung yang berwana tritis atau megan ujung sayap tidak boleh menyentuh garis hitam pada ujung ekor (catatan: pada burung warna megan atau tritis, ekor bagian ujung berwana hitam dan bagian depan berwana megan/biru telor asin). Jarak antara ujung sayap pada saat burung posisi berdiri kira-kira 1/2 inchi dari garis hitam pada ekor burung warna tritis atau megan. Tapi kalau jaraknya lebih dari 1/2 inchi juga tidak bagus.

Bulu saya lebar dan rapat (closed wing) dan tidak perlu ada "step up" antara bulu primer dan bulu sekunder. Semakin lebar bulu sayap cocok untuk kecepatan burung jenis sprinter .Alasannya, bulu sayap yang lebar dan pendek memungkinkan burung mengepak lebih cepat. Untuk jenis long distance, lar lebih sempit dibandingkan sprinter. Selain itu, untuk long distance perlu ada step-up antara bulu primer dan sekunder.

Bulu dibawah sayap sekunder harus tebal dan rapat sehingga angin tidak "mbrobos". Bulu sekunder yang panjang akan memberi keuntungan untuk burung terbang tinggi (passive lift).



7. Otot.......Otot sayap (pectoral) yang berada di bawah sayap sangat penting. Untuk burung jenis sprinter otot yang tebal (bulge). Untuk mendeteksi kualitas otot bisa diraba dengan jari dan untuk burung yang sudag terlatih akan terasa gumpalan otot yang keras.



8. Kepala dan Hidung.... Jenis sprinter, kepala dan hidung pada umumnya lebih kecil. Warna hidung harus putih bersih seperti kapur. Burung yg hidungnya pecah atau tidak putih mulus menandakan kesehatan yang kurang baik. Sementara bentuk kepala tidak penting. Yang lebih penting adalah ISI-nya. Burung sprinter cenderung lebih nervous dari pada long distance. Karananya kalau dipegang akan berontak.



9. Tulang Dada....Tulang dada burung long distance harus tebal dan kuat. Semakin tebal semakin baik karena ketebalan tulang dada mencerminkan kekuatan. Antara ujung belakang tulang dada dan capit udang harus ada ruang yang cukup luas. Ruang ini tempat organ bagian dalam seperti pangkreas yang akan mengembang bila burung terbang jauh.



10. Balance..... Yang dimaksud balance adalah perbandingan yang ideal antara panjang, tinggi dan lebar burung. Burung dikatakan balance apabila panjang dari tulang dada bagian depan sampai ujung sayap sama dengan panjang dari kaki sampai ujung kepala (burung dalam posisi berdiri). Kriteria lain dari burung yang balance adalah jarak tulang dari ujung depan tulang dada sampai kepala sama dengan jarak kedua pundak (wing butts). Dengan demikian burung yang leher dan kakinya terlalu panjang tidak ideal. (catatan: Saya masih agak sulit membayangkan bagai mana mengukur jarak antar pundak: apakah ditarik garis luris imaginer atau melengkung liwat pundak). Kalau cara mengukur jarak pundak pakai garis lurus, maka dada burung akan sangat lebar.



11. Kaki....... Pada saat burung terbang maka jempol kaki akan nyantol di ujung bulu ekor bagian dalam (pangkal ekor) agar tidak lelah saat terbang. Apabila kaki terlalu panjang maka, jempol kaki akan melewati pangkal bulu ekor. Jadi kaki yang terlalu panjang tidak bagus.



12. Bulu Dada..... Semakin tebal bulu dada semakin baik, terutama untuk burung long distance.

CARA MEMILIH MERPATI DARI SEGI BENTUK FISIK

Senin, 28 September 2009

Metode Ternak Population genetics

Steven Van Breemen mengembangkan sebuah metode ternak yang disebut : "population genetics".Tujuan metode ini adalah membangun suatu populasi burung yang ada dalam kandang kita dengan ciri-ciri genetika yang kurang lebih sama (homogen). Misalnya, kalau kita punya 50 burung di kandang, maka semuanya mempunyai ciri kualitas karakter yang relatif sama (tentu tidak 100 % sama, tapi kalaupun berbeda tidak terlalu jauh). Dari kesamaan karakter ini, kita akan mampu memunculkan hasil ternak yang selalu stabil mutunya. Artinya, kita bisa mendapatkan stok super breeder unggulan yang pada akhirnya mampu memunculkan super racer.Metode ini merupakan pengembangan dari teori Gregory Mendel yg dimodifikasi. Aplikasinya dengan menggunakan prinsip Cross Breed, Inbreed dan Line breed secara sistematis dan tercatat dgn detail.Menurut Mr. Steven, bila kita sukses mengembangkan metode ini, maka kita akan ongkang2 kaki bisa menikmati hasilnya selama 20 tahun lebih…!!Teori population genetics hanya cocok diterapkan oleh breeder yang serius, konsisten dan mempunyai visi jauh ke depan. Jadi harus diawali dengan suatu angan-angan tentang kualitas burung yg nantinya ingin kita hasilkan. Berikut penerapannya di lapangan :Tahapan ternak berdasar teori ini :1. Cross breed I -----> 2. inbreed -----> 3. line breed -----> 4. cross breed II1. Cross breed ISebelum mulai ternak, kita harus berkhayal dulu. Berkhayal tentang seperti apa typical karakter pembalap terbaik yang kita idam2kan. Bukan sekedar ikut2an hanya melihat burung2 juara yang ada. Burung juara belum tentu sempurna. Maka khayalan kita harus jauh lebih bagus dari sekedar burung juara. Agak idealis kelihatannya, tapi inilah cita cita yang harus dicapai, bagaimanapun sulitnya.Untuk cross breed I, carilah pasangan indukan sesuai dgn kriteria khayalan kita tsb. Memakai burung juara lebih dianjurkan. Tapi jangan asal comot!!!. Burung juara banyak ragam typikal kerjanya. Misalkan ingin punya burung dgn tembak keras, maka carilah burung juara yg tipikal kerjanya tembak keras. Kemudian cari juga pasangan betinanya yg keturunan burung tembak.Hasil dari cross breed 1 ini diharapkan muncul burung2 dgn karakter tembak keras secara merata pada anakannya. Cross breed 1 ini sy anggap tahap yg paling penting utk pondasi tahapan breeding berikutnya. Hasil anakan 75% harus rata karakternya. Ini untuk menghindari resiko besar pada tahapan breeding selanjutnya (inbreed), dan menghindari set back yg bisa membuang waktu percuma.2. Inbreed :Tujuan inbreed adlh mencetak breeder (parental stock) yg menyatukan sifat2 positif yg dimiliki agar lebih kuat daya turun ke anaknya (dominan). Hasil inilah yg sy sebut 'investasi', modal dasar dan aset ternakan kita yg sangat berharga. Anakan hasil inbreed, biasanya tidak memiliki ‘vitalitas’. Yaitu rentan terhadap penyakit, dan fisik/staminanya loyo. Ini tidak menjadi masalah, karena tujuan utamanya adalah untuk parental stock, bukan untuk dijadikan pembalap. Sukur2 kalo ternyata hasilnya bisa jadi pembalap. Pada akhirnya, kurangnya vitalitas ini dapat diperbaiki melalui tahapan berikutnya.3. Line breed :Setelah dapat modal dari inbreed, diperkuat lagi dgn line breed. Bila dipasangkan (misalnya) dgn paman yg punya tembak keras, hasilnya sudah bisa dipastikan : burung dgn karakter tembak sempurna yg sangat dominan. Mungkin inilah yg dimaksud oleh Steven sebagai 'super breed'. Yaitu burung yg memiliki daya turun breeding yg kuat thdp anak2nya.4. Cross breed 2 :Super breed ini boleh dicoba utk disilang dgn burung dari trah lain (cross breed ke 2). Tujuannya utk menambah daya vitalitas dan menyempurnakan karakter. Kalau di cross dgn burung lain yg tembak keras, hasilnya pasti burung dgn tembak sempurna. Kalau di cross dgn burung yg sifatnya agak berbeda, -tembak sekedar rapi misalnya- maka tembak kerasnya tidak akan hilang. Justru kita berharap burung dgn tipikal tembak keras dan rapi. Inilah yang dimaksud Mr. Steven sebagai ‘Super Racer’.Beberapa prinsip yg harus dipahami :1. Tujuan utama teori population genetics adalah untuk melestarikan karakter/sifat-sifat unggul dari indukan (untuk mudahnya kita pake saja istilah "geno-type") , bukan mempertahankan ciri-ciri fisik (feno-type). Dgn kata lain, tujuan teori ini adlh menciptakan ‘super ‘breeder’.2. Inbreeding pada prinsipnya adalah upaya menggabungkan sifat-sifat/ karakter 2 burung yang berbeda, baik karakter yang positif maupun negatif. (Ingat, tidak ada burung yg sempurna). Oleh karenanya rumus inbreeding adalah "the best vs the best". Mas Breemen memakai istilah super breeder vs super breeder. Yang kedua, super breeder harus mempunyai karakteristik yg dapat mendukung "khayalan" kualitas burung yg ingin dihasilkan dari ternak kita. Misalnya kalau kita menghayalkan bahwa hasil ternakan kita harus galak, maka cari indukan yg galak. Kalau sekarang belum memiliki atau belum mampu memiliki indukan yg "ideal", menurut saya tidak perlu khawatir karena kualitas indukan dapat diperbaiki melalui cross-breeding.Mungkin ada yg bertanya, kalau kita sudah punya "super breeder" kenapa tidak itu saja diternak dan nggak perlu repot-repot pake teori population genetics?? Kalau tujuan kita ternak hanya jangka pendek memang teori population genetics tidak perlu, tapi seperti dijelaskan sebelumnya, tujuan kita adalah jangka panjang. Perlu diingat bahwa super breeder yg kita punya suatu saat akan mati, mandul, atau sakit. Kalau ini terjadi maka kita kehilangan modal. Itu sebabnya banyak peternak besar yg gagal mempertahankan standard kualitasnya dan terus menurun. Dan banyak burung-burung juara yg terputus generasinya. 3. Cross-breeding yg pertama adalah pada saat awal memulai ternak dimana indukan berasal dari dua darah (strain) yg berbeda sedangkan cross-breeding yg kedua dilakukan dengan dua tujuan, yaitu apabila kita ingin memproduksi racer dan untuk memperbaiki kualitas darah yg sudah ada (menambahkan elemen baru atau "additive characteristics" yg sudah ada). 4. Aplikasi teori population genetics menuntut adanya sistem seleksi yg ekstra ketat. Beberapa waktu yg lalu ada pendapat yg mengatakan untuk bisa memakai sistem inbreeding, maka kita harus menjadi ahli "membunuh" burung. Istilah ini sebenarnya hanya untuk memberikan tekanan bahwa anakan yg akan melanjutkan generasi indukan harus diseleksi secara ketat. Myron Kulik menyarankan, pilihlah anak betina yg mirip bapaknya dan anak jantan yg mirip ibunya. Yang perlu dipahami, pengertian "mirip" disini bukan mirip secara fisik, tapi yg lebih penting adalah karakternya (tetapi kalau secara fisik juga mirip ya tidak apa-apa). Di sini lagi-lagi diperlukan "feeling" dan keahlian dalam melakukan seleksi. Agar kita bisa melakukan seleksi, misalnya untuk mengambil 1 pasang pada setiap generasi kita teteskan 5 pasang, lalu dari situ dilakukan seleksi untuk menentukan 1 pasang yg akan melanjutkan karakter moyangnya (ancestors). Semakin banyak pilihan yg akan diseleksi, akan semakin bagus.5. Hasil inbreeding selalu ditandai dengan ciri-ciri kehilangan vitalitas (burung hasil inbreeding menunjukkan gejala penurunan vitalitas). Prof. Anker bahkan menegaskan bahwa semakin besar hilangnya vitalitas pada burung hasil in-breeding berarti effek dari inbreeding itu lebih bagus ( ).Burung hasil inbreeding tidak cocok untuk lomba, tapi hanya cocok untuk menjadi indukan (orang eropa biasanya beli burung bukan untuk dimainkan tapi untuk breeding. Turunanya nanti yang dimainkan. Vitalitas yang hilang itu akan didapatkan kembali apabila hasil inbreeding di-cross dengan burung lain. Inbreeding dimaksudkan untuk membangun sifat-sifat yang akan selalu diturunkan kepada turunannya (offspring), sedangkan cross-breeding untuk menambah sifat-sifat/ karakter yang sudah ada seperti menambah vitalitas dan kekuatan.Dengan in-breeding kita bisa memperbaiki kualitas yang jelek. In-breeding adalah pengurangan variasi atau keragaman. Semakin banyak/sering suatu darah tertentu (strain) dilakukan in-breed maka turunannya akan mirip satu sama lain.Menjodohkan bapak dan anaknya yg cewek atau ibu dengan anaknya yg cowok lebih efektif hasilnya dari pada menjodohkan kakak dengan adiknya (meskipun sama-sama in-breeding tapi sepertinya dampaknya berbeda).semoga bermanfaatsalam