NO - NAMA BURUNG - POSISI
1. BATAVIA - MAKITA TEAM (JAKARTA)
2. MONSTER - TERORIS TEAM
3. JAGUAR, GALAXY, PIERO - JAGUAR BIRD FARM(JAKARTA)
4. JOKO PEKIK - ILSOGNO(KELAPA GADING)
5. SINGALAGA,FERNANDO, PSK 66,PUTRA MENGGER - TEAM HOKI (BANDUNG)
6. NAGA SAKTI - TEAM SPORTIVO (SRAGEN)
7. JAMAICA, ENDURO, SANGKUR, SINGA AFRIKA - PALEM (TASIK)
8. MATADOR (Bapak Terminator n kakak Monster), PUMA - TEAM FAIR (SEMARANG)
9. MARINA, NADINE - TEAM LEONARD (SEMARANG)
10. PENHAOUSE, HIPNOSTIS - TEAM BATAVIA
11. MARTINI - GATHOTKACA - TEAM FAREL
12. ANCAMAN / BALITUNGAN - TEAM BINTANG (SOLO)
13. SUPERBOY - TEAM FAMILY (SUMEDANG)
14. B2, PUTRA CPM - TEAM CPM
15. MAWAR - TEAM ASBETA
16. TORRES, BINTANG CPM/KHARISMA, OBAMA/BINTANG MONSTER - RIZKY THI
17. KELANA 6 / BIG BOSS - TEAM TOPSONG (KLATEN)
18. JOKO PEKIK, JANOKO - PAK KONENG
19. MEGALAMON - TEAM MICKY (SEMARANG)
20. PUTRA MADURA, TALIBAN - TEAM FERRARI (PALEMBANG)
Rabu, 15 Februari 2012
Jadwal Lomba Liga Jatimbar IV
1. Pacitan, tanggal 6 - 8 April 2012
2. Jombang, tanggal 4 - 6 Mei 2012
3. Kediri, tanggal 1 - 3 Juni 2012
4. Sidoarjo, tanggal 24 - 26 Agustus 2012
5. Nganjuk, tanggal 21 - 23 September 2012
6. Madiun, tanggal 19 - 21 Oktober 2012
2. Jombang, tanggal 4 - 6 Mei 2012
3. Kediri, tanggal 1 - 3 Juni 2012
4. Sidoarjo, tanggal 24 - 26 Agustus 2012
5. Nganjuk, tanggal 21 - 23 September 2012
6. Madiun, tanggal 19 - 21 Oktober 2012
Selasa, 14 Februari 2012
Kenapa Burung Sakit
Merpati sebatulnya burung yang punya daya tahan tinggi terhadap
penyakit. Bahkan merpati mempunyai sistem anti-bodi yang membuatnya
tidak tertular oleh virus H5N1 (flu burung). Kalau kita perhatikan
burung merpati liar, hampir tidak pernah dijumpai merpati yang patekan,
ND ataupun goham. Jarang sekali saya liat di taman-taman ada merpati
yang sakit.
Bagi pemain merpati yang sudah lama, tentu ingat bahwa sebelum tahun 1980-an jarang sekali ada merpati yang sakit. Pada hal pada saat itu perawatan sangat sederhana. Obat-obatan kimia, hampir tidak dikenal atau tidak digunakan. Kandang merpati dapat dikatakan tidak pernah dibersihkan dan semua burung tetap sehat.
Tapi kalau kita lihat akhir-akhir ini, merpati justru terlihat sangat rentan terhadap berbagai macam penyakit mulai dari patek, cacingan, kutu, hingga penyakit yang lebih berat seperti goham, ND, paratyphoid, dll.
Kenapa hal ini terjadi...Apakah karena kebersihan udara, lalu lintas burung yang semakin tinggi, makanan yang tercemar zat kimia, lingkungan yang semakin kotor, atau ada sebab lain????
Kalau saya perhatikan, apabila ada burung seorang rekan yang sakit, maka fokus perhatiannya hanya pada obat untuk menyembuhkan penyakit tersebut. Sebetulnya yang lebih penting adalah mencari sebab kenapa burung kita sakit.
Sebagian besar penyebab burung kita sakit adalah kandang yang tidak sehat. Ciri-ciri kandang yang tidak sehat antara lain: burung terlalu padat, lembab, kurang ventilasi, dan tidak kena sinar mata hari. Penyakit patek sebetulnya tidak perlu diobati pun akan sembuh sendiri sepanjang kandangnya sehat dan kering. Cukup dijaga agar jangan infeksi.
Agar sehat, burung harus kena sinar mata hari minimal 30 menit setiap hari. 25 % areal kandang sebaiknya juga kena sinar mata hari dan memiliki ventilasi yang cukup untuk sirkulasi udara.
Kandang yang lembab, selain karena kurang sinar mata hari dan kurang ventilasi bisa juga karena bocor saat hujan. Mencuci kandang dengan air (ngepel), sebaiknya jangan dilakukan sore hari saat sudah tidak ada mata hari karena akan menyebabkan udara dalam kandang menjadi lembab di malam hari. Mengepel kandang lebih baik dilakukan pada pagi atau siang hari sehingga mudah kering.
Kebersihan kandang tidak identik dengan kesehatan kandang. Bersih belum tentu sehat, tetapi kotor juga belum tentu tidak sehat. Dalam sistem kandang ada yang dikenal dengan istilah "deep flooring" atau "deep litter". Bagi kawan2 yang pernah berkunjung ke kandang Bang Je, peguponnya sangat kotor dan konon seumur-umur sarangnya nggak pernah diganti. Ini yang disebut dengan "deep litter". Sistem deep litter boleh dipakai dengan catatan tetap kering dan burungnya sehat. Di kotoran burung sebenarnya ada yang disebut dengan "good bacteria" atau bakteri yang baik. Ciri-ciri "good bacteria" adalah tidak berbau. Kalau kotoran burung bau menyengat, itu tanda-tanda burung tidak sehat dan umumnya terkena coccidiosis atau penyakit pencernakan lainnya. Sarang boleh saja tidak diganti, tetapi sebaiknya saat ada panas dijemur agar tetap kering dan membunuh kuman, kutu atau cacing.
Penyebab lain burung sakit adalah karena stress dan kurang istirahat secara baik. Stress bisa disebabkan oleh berbagai macam seperti latihan yang berlebihan, gangguan predator di kandang, kandang terlalu padat atau kandang yang tidak sehat. Kita sering menyepelekan masalah kutu. Padahal burung yang kutuan banyak kerugian seperti anemia, bulu rusak dan stress karena pada malam hari tidak dapat istirahat diganggu oleh gigitan kutu.
Burung liar tetap sehat karena makanannya balance atau seimbang. Burung yang dikurung beresiko makanan tidak seimbang (karbohidrat, protein, fat, mineral, micro-mineral, vitamin). Oleh karena itu perlu diperhatikan makanan yang seimbang sesuai kebutuhan (saat main, angrem, mabung, meloloh atau istirahat).
Burung sakit bisa juga karena tertular burung lain. Oleh karena itu perlu hati-hati memasukan burung asing. Bukan hanya burung pasar saja, tetapi juga burung dari peternak lain. Karakteristik bakteri yang ada pada 1 kandang dengan kandang lain bisa berbeda. Burung kita sudah terbiasa hidup dengan bakteri yang ada dikandangnya. Begitu masuk bakteri dengan strain yang berbeda yang dibawa oleh burung baru, maka sistem antibodi-nya tidak mengenali strain bakteri tersebut.
Selain masalah-masalah di atas, manajemen kesehatan seperti vaksinasi, pemberian obat cacing, obat kutu, coccidiosis secara berkala dan teratur tentu sangat penting.
Salam, semoga burung kita tetap sehat.
Bagi pemain merpati yang sudah lama, tentu ingat bahwa sebelum tahun 1980-an jarang sekali ada merpati yang sakit. Pada hal pada saat itu perawatan sangat sederhana. Obat-obatan kimia, hampir tidak dikenal atau tidak digunakan. Kandang merpati dapat dikatakan tidak pernah dibersihkan dan semua burung tetap sehat.
Tapi kalau kita lihat akhir-akhir ini, merpati justru terlihat sangat rentan terhadap berbagai macam penyakit mulai dari patek, cacingan, kutu, hingga penyakit yang lebih berat seperti goham, ND, paratyphoid, dll.
Kenapa hal ini terjadi...Apakah karena kebersihan udara, lalu lintas burung yang semakin tinggi, makanan yang tercemar zat kimia, lingkungan yang semakin kotor, atau ada sebab lain????
Kalau saya perhatikan, apabila ada burung seorang rekan yang sakit, maka fokus perhatiannya hanya pada obat untuk menyembuhkan penyakit tersebut. Sebetulnya yang lebih penting adalah mencari sebab kenapa burung kita sakit.
Sebagian besar penyebab burung kita sakit adalah kandang yang tidak sehat. Ciri-ciri kandang yang tidak sehat antara lain: burung terlalu padat, lembab, kurang ventilasi, dan tidak kena sinar mata hari. Penyakit patek sebetulnya tidak perlu diobati pun akan sembuh sendiri sepanjang kandangnya sehat dan kering. Cukup dijaga agar jangan infeksi.
Agar sehat, burung harus kena sinar mata hari minimal 30 menit setiap hari. 25 % areal kandang sebaiknya juga kena sinar mata hari dan memiliki ventilasi yang cukup untuk sirkulasi udara.
Kandang yang lembab, selain karena kurang sinar mata hari dan kurang ventilasi bisa juga karena bocor saat hujan. Mencuci kandang dengan air (ngepel), sebaiknya jangan dilakukan sore hari saat sudah tidak ada mata hari karena akan menyebabkan udara dalam kandang menjadi lembab di malam hari. Mengepel kandang lebih baik dilakukan pada pagi atau siang hari sehingga mudah kering.
Kebersihan kandang tidak identik dengan kesehatan kandang. Bersih belum tentu sehat, tetapi kotor juga belum tentu tidak sehat. Dalam sistem kandang ada yang dikenal dengan istilah "deep flooring" atau "deep litter". Bagi kawan2 yang pernah berkunjung ke kandang Bang Je, peguponnya sangat kotor dan konon seumur-umur sarangnya nggak pernah diganti. Ini yang disebut dengan "deep litter". Sistem deep litter boleh dipakai dengan catatan tetap kering dan burungnya sehat. Di kotoran burung sebenarnya ada yang disebut dengan "good bacteria" atau bakteri yang baik. Ciri-ciri "good bacteria" adalah tidak berbau. Kalau kotoran burung bau menyengat, itu tanda-tanda burung tidak sehat dan umumnya terkena coccidiosis atau penyakit pencernakan lainnya. Sarang boleh saja tidak diganti, tetapi sebaiknya saat ada panas dijemur agar tetap kering dan membunuh kuman, kutu atau cacing.
Penyebab lain burung sakit adalah karena stress dan kurang istirahat secara baik. Stress bisa disebabkan oleh berbagai macam seperti latihan yang berlebihan, gangguan predator di kandang, kandang terlalu padat atau kandang yang tidak sehat. Kita sering menyepelekan masalah kutu. Padahal burung yang kutuan banyak kerugian seperti anemia, bulu rusak dan stress karena pada malam hari tidak dapat istirahat diganggu oleh gigitan kutu.
Burung liar tetap sehat karena makanannya balance atau seimbang. Burung yang dikurung beresiko makanan tidak seimbang (karbohidrat, protein, fat, mineral, micro-mineral, vitamin). Oleh karena itu perlu diperhatikan makanan yang seimbang sesuai kebutuhan (saat main, angrem, mabung, meloloh atau istirahat).
Burung sakit bisa juga karena tertular burung lain. Oleh karena itu perlu hati-hati memasukan burung asing. Bukan hanya burung pasar saja, tetapi juga burung dari peternak lain. Karakteristik bakteri yang ada pada 1 kandang dengan kandang lain bisa berbeda. Burung kita sudah terbiasa hidup dengan bakteri yang ada dikandangnya. Begitu masuk bakteri dengan strain yang berbeda yang dibawa oleh burung baru, maka sistem antibodi-nya tidak mengenali strain bakteri tersebut.
Selain masalah-masalah di atas, manajemen kesehatan seperti vaksinasi, pemberian obat cacing, obat kutu, coccidiosis secara berkala dan teratur tentu sangat penting.
Salam, semoga burung kita tetap sehat.
JADWAL LOMBA SI PPMBSI TAHUN 2012
1. Tanggal 23-25 Maret 2012 Tempat Bandung
2. Tanggal 20-22 April 2012 Tempat Surabaya
3. Tanggal 18-20 Mei 2012 Tempat Jakarta
4. Tanggal 15-17 Juni 2012 Tempat Semarang
5. Tanggal 13-15 Juli 2012 Tempat Jogjakarta
6. Tanggal 07-09 September 2012 Tempat Cirebon
7. Tanggal 05-07 Oktober 2012 Tempat Madura (Aniversary)
2. Tanggal 20-22 April 2012 Tempat Surabaya
3. Tanggal 18-20 Mei 2012 Tempat Jakarta
4. Tanggal 15-17 Juni 2012 Tempat Semarang
5. Tanggal 13-15 Juli 2012 Tempat Jogjakarta
6. Tanggal 07-09 September 2012 Tempat Cirebon
7. Tanggal 05-07 Oktober 2012 Tempat Madura (Aniversary)
Senin, 02 Januari 2012
Merpati Sprint hoki team "Terminator" Terbaik 2011
MERPATI balap sprint "Terminator" milik Kiki Hoki (Hoki Team) Bandung, tampil menjadi yang terbaik di Indonesia tahun 2011. Untuk menyandang gelar juara terbaik selama 12 putaran, Terminator dua kali menjadi juara pertama dan satu kali sebagai runner up dengan total nilai poin tertinggi 864,1. Perolehan nilai tersebut baru pertama kali terjadi dalam lomba merpati balap sprint di Indonesia. Sedangkan posisi kedua disabet peserta lain.
Sementara andalan Kiki Hoki lainnya yaitu "New Armada", berada di posisi juara ketiga dengan perolehan nilai 400 lebih. Selanjutnya "Dinasty" yang telah merajai selama dua tahun, kali ini harus turun peringkat ke posisi juara empat.
Kiki Hoki ketika ditemui di arena lomba Lanud Sulaeman, Kabupaten Bandung, Minggu (17/7) menjelaskan bahwa lomba yang diselenggarakan oleh Persatuan Penggemar Merpati Balap Sprint Indonseia (PPMBSI) bekerjasa sama dengan BnR, jumlah pesertanya meningkat dari tahun sebelumnya. Menurutnya, dalam lomba merpati balap sprint hasil juaranya benar-benar murni karena tidak ada unsur rekayasa. Apalagi dalam setiap gelarannya perolehan poin selalu diumumkan secara terbuka.
Terminator sebagai yang terbaik tahun 2011, mendapat nilai tertinggi bila dibandingkan dengan para pesaingnya. Sehingga berhak penampilannya yang supergemilang, sang empunya beerhak mendapatkan haduah uang pembinaan sebesar Rp 90 juta.
Sebelum acara penobatan juara bagi Terminator, jauh-jauh hari Kiki Hoki timnya sudah merayakan pesta karena raihan nilai yang diperoleh Terminator tak mungkin lagi terkejar oleh para pesaingnya. Raihan poin tertinggi yang diraih Terminator pun, sekaligus memecahkan rekor poin tertinggi selama gelaran PPMBSI.
Kiki lebih jauh menambahkan, Terminator termasuk burung yang usianya masih muda tetapi kualitas kecepatan terbangnya benar-benar sangat istimewa sehingga mampu mengalahkan Dinasty yang telah menjadi juara dua kali berturut-turut pada tahun 2009 dan 2010. "Meski begitu, Dinasty yang memakai ring Hoki masih tetap berjaya sehingga mampu menjadi juara keempat di Indonesia," pungkas Kiki Hoki.
(sumber GALAMEDIA www.klik-galamedia.com)
Sementara andalan Kiki Hoki lainnya yaitu "New Armada", berada di posisi juara ketiga dengan perolehan nilai 400 lebih. Selanjutnya "Dinasty" yang telah merajai selama dua tahun, kali ini harus turun peringkat ke posisi juara empat.
Kiki Hoki ketika ditemui di arena lomba Lanud Sulaeman, Kabupaten Bandung, Minggu (17/7) menjelaskan bahwa lomba yang diselenggarakan oleh Persatuan Penggemar Merpati Balap Sprint Indonseia (PPMBSI) bekerjasa sama dengan BnR, jumlah pesertanya meningkat dari tahun sebelumnya. Menurutnya, dalam lomba merpati balap sprint hasil juaranya benar-benar murni karena tidak ada unsur rekayasa. Apalagi dalam setiap gelarannya perolehan poin selalu diumumkan secara terbuka.
Terminator sebagai yang terbaik tahun 2011, mendapat nilai tertinggi bila dibandingkan dengan para pesaingnya. Sehingga berhak penampilannya yang supergemilang, sang empunya beerhak mendapatkan haduah uang pembinaan sebesar Rp 90 juta.
Sebelum acara penobatan juara bagi Terminator, jauh-jauh hari Kiki Hoki timnya sudah merayakan pesta karena raihan nilai yang diperoleh Terminator tak mungkin lagi terkejar oleh para pesaingnya. Raihan poin tertinggi yang diraih Terminator pun, sekaligus memecahkan rekor poin tertinggi selama gelaran PPMBSI.
Kiki lebih jauh menambahkan, Terminator termasuk burung yang usianya masih muda tetapi kualitas kecepatan terbangnya benar-benar sangat istimewa sehingga mampu mengalahkan Dinasty yang telah menjadi juara dua kali berturut-turut pada tahun 2009 dan 2010. "Meski begitu, Dinasty yang memakai ring Hoki masih tetap berjaya sehingga mampu menjadi juara keempat di Indonesia," pungkas Kiki Hoki.
(sumber GALAMEDIA www.klik-galamedia.com)
Senin, 17 Oktober 2011
PENYAKIT MERPATI
Penyakit Merpati biasanya dikelompokkan sesuai jenis penyakit berdasarkan penyebabnya.
1. Penyakit Yang Disebabkan oleh Virus
- Newcastle Disease (ND)
- Paramyxovirus (sejenis ND)
- Pigeon Pox (patek)
- Herpesvirus
- Adenovirus
- Circovirus
- Arbovirus
Penyakit yang disebebkan oleh virus tidak bisa diobati dengan antibiotik, tetapi hanya bisa dicegah dengan cara vaksinasi. Penyebuhan hanya mengandalkan pada daya tahan tubuh untuk mengatasi berkembangnya virus tersebut. Pada saat daya tahan tubuh sudah mampu mengatasi, maka dengan sendirinya burung akan sembuh. Tetapi kalau anti-body tidak kuat burung akan mati.
Burung yang terkena penyakit yang disebabkan oleh virus bisa juga diberi anti-biotik berspektrum luas seperti Baytril atau Amoxyline. Tujuannya bukan untuk menyembuhkan penyakit tersebut, tetapi untuk mencegah munculnya infeksi sekunder akibat kondisi tubuh yg lemah. Burung yang terkena penyakit karena virus, yang terpenting dilakukan adalah diisolasi, jaga kebersihan kandang dan beri makanan yang berprotein untuk meningkatkan daya tahan tubuhnya. Kalau burung nggak mau makan bisa dibantu dengan spet cairan infus.
Jenis penyakit karena virus yang paling umum adalah ND/Paramyxovirus dan Pox (cacar).
2. Penyakit yang Disebabkan oleh Bakteri.
- Paratyphoid
- Mycoplasmosis
- Clamydiosis
- Pseudotuberculosis
- Aspergillosis
- Candidiasis
- Ulcerative Enteritis
- E-Coli
- Streptococus Bovis
Dari jenis penyakit tersebut di atas, yang paling umum dijumpai adalah
Paratyphoid, Clamydiosis, Streptococus Bovis dan E-Coli
3 Penyakit yang disebabkan oleh Protozoa
- Coccidiosis
- Trichomoniasis/Canker (Goham)
- Malaria
- Pseudomalaria
- Hexamitiasis
- Toxoplasmosis
- Leucocytozoonosis
Dari jenis penyakit tersebut di atas, yang paling umum adalah coccidiosis dan Canker (goham).
4. Penyakit yang disebabkan oleh parasit.
- Cacing Pita (tapeworm)
- Cacing Gelang(roundworm)
- Cacing Rambut.(hairworm)
5. Penyakit yang disebabkan oleh Ectoparasite (Kutu)
- Lice
- Mites
- Pigeon Fly
Sumber: Merpati.org
1. Goham (Canker)
Goham atau Canker merupakan penyakit merpati yang paling umum dijumpai. Penyakit ini sebenarnya semacam sariawan yang disebabkan oleh protozoa trichomoniasis. Karena penyakit ini paling umum dijumpai, maka apabila burung anda terlihat kurang fit, maka kecurigaan pertama adalah Goham.
Goham sangat mudah menyerang burung yang stress karena berbagai sebab, terutama stress karena kelelahan atau perjalanan jauh.
Goham bisa menyerang bagian tubuh mana saja mulai dari mulut sampai dubur seperti terlihat pada gambar di atas.
Mendeteksi Goham sebenarnya tidak terlalu sulit.Beberapa tanda-tanda goham yg paling umum adalah:
1. Ada bercak kuning di mulut, tetapi apabila goham menyerang organ bagian dalam tentu bercak kuning tidak terlihat. Untuk goham yang menyerang organ bagian dalam, maka mulut burung akan tercium bau busuk. Oleh sebab itu apabila ada burung yang terlihat kurang sehat, maka perlu diperiksa mulutnya dan dicium.
2. “Pinguin posture”, yaitu burung akan berdiri seperti pinguin atau bebek dengan badan terangkat seperti gambar piyik di atas.
3. Kotoran mencret dan berwarna hijau.
4. Banyak minum
5. Telih tidak turun,
6. Badan terasa berat (“lady feel”)
7. Bulu terlihat kering dan kusam.
Penularan goham adalah melalui kontak langsung dan air liur. Burung indukan yg kena goham maka saat meloloh akan menularkan kepada piyiknya. Oleh sebab itu, sebelum indukan meloloh perlu diberi obat anti-goham 1/2 dosis (3 hari). Burung yang sedang meliloh apa bila lolohannya tercecer di sarang maka piyiknya akan terkena goham di bagian dubur seperti gambar di atas (navel canker). Goham juga mudah menular melalui air minum. Oleh karena itu, burung yang terkena goham, tempat minum dan makannya di pisah. Lebih aman lagi, burung yang terkena goham diisolasi.
Kalau kita tidak yakin burung2 teman bebas dari goham, maka saat latihan bersama ada baiknya tempat minumnya tidak tercampur dengan burung orang lain. Ini penting terutama kalau kita maen balap atau kolongan.
Pengobatan goham bisa menggunakan anti biotik Metronidazole, Carnidazole, Ronidazole atau Dimetridazola. Metronidazole terbukti efektif mengatasi goham dan harganya pun relatif murah dan bisa didapat di apotik.
Dosis yang dianjurkan adalah 50 mg/hari. Karena saya agak ragu dengan kekuatan anti biotik yang beredar di Indonesia, bisa menggunakan dosis 75-100 mg. Jadi kalau kita pake Metronidazole 500 mg, maka 1 tablet bisa dibagi 4-6. Pengalaman saya belum lama ini diberi 1/6 tablet dan hanya dalam 2 hari goham sudah bersih. Meskipun goham sudah bersih, tetapi pemberian anti biotik dianjurkan 5-7 hari agar betul2 tuntas dan menghindari bakteri kebal.
Kalau kita membawa burung dari luar kota atau dari tempat lain ada baiknya diberi obat anti goham 1/2 dosis (3 hari). Untuk burung yang stress karena perjalanan jauh atau terlalu lelah, cukup diberi obat 1 kali saja.
Selain dengan obat tersebut bisa juga obat khusus burung semisal Terafit juga cukup efektif menyembuhkan goham.
2. Infeksi Saluran Pernapasan
Penyakit pada sistem pernapasan pada umumnya terjadi pada saat burung aktif dimainkan. Gejala yang umum terlihat pada burung yang terkenana infeksi saluran pernapasan adalah:
1. Pada stadium dini, mata terlihat berair dan pada stadium lanjutan mata seperti belekan seperti terlihat pada gambar di atas.
2. Keluar cairan dari hidung
3. Cere (bagian hidung yang berwarna putih) terlihat lembab dan kotor (tidak putih bersih)
4. Burung suka bersin dan menggaruk-garuk matanya dengan kaki.
5. Nafas terlihat berat (megap-megap.
6. Apabila mulut dibuka maka tonsil terlihat membengkak dan saluran pernapasan (windpipe) menyempit.
Beberapa faktor penyebab terjadinya infeksi saluran pernapaan antara lain:
1. Faktor lingkungan (kandang lembab, terlalu padat/overcrowding)
2. Faktor manajemen yang buruk (lembab, kualitas pakan, latihan yang berlebihan)
3. Faktor penyakit (bakteri, jamur, dan kutu)
Beberpa jenis bakteri penyebab infeksi saluran pernapasan antara lain Clamydiosis/ornithosis,Mycoplasama, Haemophilus. E-Coli pada stadium tertentu juga dapat menyebar pada sistem saluran pernapasan.
Serbuk jamur (Aspergillus Fumigatus) yang terhisap oleh merpati juga dapat menjadi faktor penyebab gangguan pernapasan. Dalam kandang yang lembab, jamur akan tumbuh dengan subur. Selain itu kutu (mites) yang masuk ke lubang hidung juga dapat menyebabkan infeksi saluran pernapasan.
Penularan infeksi saluran pernapasan adalah melalui kontak langsung dengan perantara air minum atau lendir yg keluar saat burung bersin. Bakteri penyebab infeksi saluran pernapasan pada umumnya bertahan hidup di luar tubuh burung selama 1 atau 2 hari. Pembersihan kandang dengan menggunakan disinfektan dapat mencegah penularan kepada burung lain.
Pengobatan burung yang terkena infeksi saluran pernapaan sangat tergantung pada penyebab dari infeksi tersebut. Namun apabila infeksi karena bakteri, maka obat yang direkomendasikan adalah doxycicline+tylosin dengan merek dagang Doxy-T (kalau tidak salah keluaran Oropharma) dan Enrofloxacine (Baytril). Anti-biotik derivatif tetracycline juga efektif mengatasi infeksi saluran pernapasan.
Untuk penggunaan Baytril dapat diberikan 3 tetes sebanyak 2 kali per hari selama 5-7 hari dan dapat diperpanjang sampai 10 hari atau bahkan lebih. Hanya menurut laporan riset terbaru, penggunaan Baytril secara intensif selain berpotensi menimbulkan kekebalan juga dapat mengganggu fertilitas, terutama pada burung betina.
Menurut Dr. Wim Peters, burung yang terkena infeksi saluran pernapasan dapat pula diberi suntikan streptomycin atau terramycin 1/2 ml. Menurut Peters, semakin keras burung memberikan reaksi kepada suntikan, maka penyembuhannya akan semakin cepat. Reaksi keras misalnya burung muntah atau pinsan. Tempo hari Mas Chito dan Mahardikabf menggunakan Medoxy. Kalau memang kandungan Medoxy adalah Doxycicline atau streptpmycin atau terramycin, maka bisa juga digunakan untuk penyembuhan infeksi saluran pernapasan.
3. Paratyphoid
Paratyphoid disebabkan oleh bakteri Salmonella Typhimurium. Paratyphoid umum dijumpai pada merpati dan dianggap lebih berbahaya dan mematikan dibandingkan penyakit goham dan saluran pernapasan. Burung piyik yang terkena paratyphoid sistem perncernakan dapat mati dalam waktu sangat singkat (mendadak). Bahaya lain dari paratyphoid adalah karena bakteri ini dapat hidup dalam periode yang sangat lama di luar tubuh burung sehingga sterilisasi kandang agak sulit. Paratyphoid juga bisa terbawa oleh burung lain yang masuk ke kandang kita, sehingga perlu kehati-hatian kalau membawa burung baru dari luar.
Paratyphoid dapat menyerang semua bagian tubuh seperti:
1. Saluran pencernakan.
Jika paratyphoid menyerang saluran pencernakan maka burung akan menunjukkan gejala tidak mau makan, badan terasa ringan (ampyang), kotoran mencret berwarna hijau dan kadang kalau berbusa. Selain, terkadang bulu leher berdiri seperti pada gejala burung yang terkena virus herpes.
2. Saraf otak (Miningel Form).
Apabila paratyphoid menyerang syaraf otak maka burung terlihat seperti kena ND (celeng). Bedanya, burung yang terkena paratyphoid kepalanya tidak muter hanya tidak bisa berdiri tegak seperti lehernya lumpuh (seperti dalam gambar). Sementara kalau ND burung kepalanya akan muter2 dan cenderung jalan-jalan.
3. Persendian (Join Form).
Apabila paratyphoid menyerang persendian maka akan menimbulkan bengkak. Biasanya persendian yang diserang adalah sapar, pergelangan kaki dan lutut seperti terlihat pada gambar.
4. Menyerang organ tubuh bagian dalam (Generalized atau Multi-organ Form).
Paratyphoid juga bisa menyerang organ tubuh yang lain termasuk alat reproduksi. Kematian bisa sangat cepat terjadi tanpa ada tanda-tanda klinis yang terlihat (mati mendadak). Sementara kalau menyerang sistem reproduksi akan menyebabkan burung mandul (steril). Kalaupun tetap bisa bertelur dan menetas, biasanya akan menimbulkan piyik cacat atau mati saat masih dalam bentuk embrio.
Pencegahan:
Karena Salmonella dapat hidup di luar tubuh cukup lama (bulanan), maka kebersihan kandang menjadi sangat penting. Secara teratur kandang harus disemprot/cuci dengan disinfektan. Hanya yang perlu diingat, jangan menggunakan disinfektan yang berbahan alkaline karena salmonella justru tumbuh subur di medium alkaline. Tempat makan dan minum juga sebaiknya dicuci dengan disinfektan yang mengandung clorine.
Cirilain dari Salmonella adalah tidak hidup di medium yang asam (acid). Oleh karena itu, sekali-sekali kandang perlu disemprot/dicuci dengan air yg asam (acidifying). Ini bisa dilakukan dengan mencampur air untuk mencuci dengan cuka makan (5%). untuk 1 liter air dicampur dengan 1 sendok makan cuka (10 ml).
Hati-hati memasukkan burung dari luar. Apabila ada keragu-raguan tentang burung baru yg masuk, sebaiknya dikarantina dulu dan diberi baytril selama 3 hari (1/2 dosis). Burung baru juga bisa dimandikan dengan air yg dicampur sedikit cuka dan garam. Memandikan burung dengan air yang dicampur cuka dan garam selain mencegah paratyphoid juga baik untuk kesehatan bulu dan mencegah kutu. Campuran air untuk mandi adalah 10 ml cuka + 1 sendok makan garam untuk 4 liter air (1 gallon).
Apabila dalam kandang sudah ada kasus burung yang terkena paratyphoid dalam jumlah cukup banyak (3 % dari jumlah burung) atau sering terjadi kasus paratyphoid, maka untuk pencegahan semua burung, air minum dapat diberi Baytril dengan campuran 1 mil untuk 1 liter air selama 5 hari. Dan setelah itu perlu diberi probiotik selama 3-5 hari.
Pengobatan:
Sampai saat ini Baytril masih diangggap obat paratyphoid yang paling efektif dengan dosis 3 tetes 2 kali setiap hari selama 7-10 hari dan bisa sampai 14 hari. Antibiotik lain yang dianjurkan adalah amoxycillin. Kelabihan Amoxycillin dari Baytril adalah Amoxycillin tidak mengganggu fertilitas sehingga dapat digunakan pada saat menjelang masa breeding (untuk preventif). Selama dalam pengobatan dianjurkan untuk diberi vit B-Complex
Apabila persendian sudah bengkak atau leher tengleng, anti biotik tidak akan menyembuhkan bengkak dan celeng. Perlu treatment lain setelah paratyphoidnya sembuh. Tetapi burung yg sudah terkena paratyphoid cukup parah tidak direkomendasikan untuk jadi racer atau breeder. Kalaupun jadi babuan, dikhawatirkan juga akan menulari piyiknya. Jadi lebih baik disingkirkan saja untuk selamanya
4. COCCIDIOSIS
Coccidiosis adalah infeksi saluran pencernakan yang disebabkan oleh protozoa/parasit Cocidia. Infeksi ini bisa menyerang semua jenis binatang. Untuk merpati, infeksi disebabkan Cocidia jenis Eimeria Colombanum dan Emiria Labbeana. Cocidia merusak sel dinding usus namun apabila jumlah Cocidia dalam dinding usus tidak terlalu banyak maka burung tidak akan terlihat sakit. Apabila burung mengalami stress atau daya tahan tubuhnya menurun akibat infeksi yang lain, maka jumlah Cocidia akan berkembang pesat. Gejala burung yang terkena adalah kotoran encer berwarna hijau kecoklatan, bebau menyengat dan apabila sudah parah ada seperti bercak darah. Karena kerusakan terjadi pada sel dinding usus, maka burung juga berpotensi kena anemia. Itu sebabnya rongga mulut terlihat pucat.
Penularan cocidiosis seperti cacing, yaitu melalui kotoran. Telur cocidia akan terbawa bersama kotoran dan apabila tercampur dengan makanan akan menular. Di dalam tubuh, telur cocidia akan menetas dan berkembang biak. Lingkungan yang mendorong berkembangnya cocidia adalah kandang yang lembab dan hanyat dengan temperatur sekitar 28 derajat C.
Karena penularannya melalui kotoran, maka pencegahannya adalah menjaga kebersihan kandang. Upayakan makanan dan minuman jangan sampai terkena kotoran burung.
Obat cocidiosis untuk binatang lain bisa juga untuk merpati. Hanya perlu penyesuaian dosisnya saja. Derivatif Sulfonamide efektif untuk mengatasi cocidiosis. Obat lain yang juga direkomendasikan adalah Sulfaquinoxalin, Sulfadimethoxine dan Sulfaclorpyrazine. Pemberian obat selama 3 hari.
5. COLIBACILLOSIS
Colibacillosis adalah infeksi yang disebabkan oleh bakteri Escherichia Coli atau lazim disebut dengan E-Coli. Bakteri ini pada umumnya berada di saluran pencernakan tetapi bisa juga menyebar ke organ tubuh yang lain. Bakteri E-Coli pada dasarnya dijumpai di manusia dan hewan. Ada sejumlah strain E-Coli dari yang tidak berbahaya sampai yang menyebabkan sakit. Jika jenis atau strain E-Coli adalah jenis yang tidak berbahaya dan dalam jumlah yang tidak banyak, maka bakteri ini tidak menyebabkan burung sakit.
Masalah akan timbul apabila strain bakteri yang ada dari jenis yang berbahaya dan dalam jumlah yang berlebihan.
Apabila E-Coli menyerang sistem pencernakan maka gejala yang terlihat adalah burung diare dengan kotoran berwarna hijau dan putih dimana warna putihnya menyebar (Pada burung yg sehat, warna putuh akan mengelompok). Karena diare yang hebat, maka pantat burung akan basah. Ciri lain dari burung yang terinfeksi E-Coli adalah kotoran berbau menyengat.
Apabila C-Coli menyebar ke sistem reproduksi maka akan menyebabkan burung infertil, telur hitam tetapi tidak menetas atau warna putih (bening). Terkadang, cangkang telur juga lembek seperti kekurangan kalsium. E-Coli juga dapat menyebar ke ginjal, hati atau pankreas yang berdampak pada memperlemah kinerja burung (weakening factor)
Gejala lain yang umum adalah burung menjadi kurus dan “ampyang” karena infeksi di sistem pencernakan. Pada stadium tertentu (cukup parah) burung akan banyak minum dan muntah.
E-Coli sering kali menyerang piyik yang berumur antara 7-15 hari. Jika ini terjadi maka menyebabkan piyik mati tiba2.
Sebagai bakteri, maka E-Coli akan tumbuh subur di lingkungan yang lembab dan kotor. Karena E-Coli pada umumnya terdapat pada sistem pencernakan, maka penularan terjadi melalui kotoran.
Pencegahan E-Coli dapat dilakukan dengan menjaga kandang agar tetap bersih dan kering, membersihkan alat minum dan makan dengan air campur cuka, pemberian probiotik secara teratur (2X seminggu), mencampur air minum dengan sedikit cuka apel, menghilangkan faktor penyebab stress (umumnya kandang terlalu padat dan latihan yang berlebihan).
Antibiotik berspektrum luas seperti amoxyciline pada prinsipnya efektif untuk mengatasi E-Coli. Namun akhir2 ini ditemukan bahwa penggunaan antibiotik mulai kurang efektif akibat cara pemberian antibiotik yang tidak benar (dosis yg tidak tepat). Penggunaan antibiotik harus hati2 karena dapat juga membunuh bakteri yg diperlukan oleh tubuh (bakteri yg baik).
Untuk mengatasi E-Coli lebih baik dengan mencegah, khususnya menjaga kebersihan kandang, menghilangkan faktor stress dan pemberian probiotik atau cuka apel secara teratur.
6. TUMOR
Tumor sangat umum dijumpai pada merpati, baik yang menyerang organ tubuh bagian dalam (tidak terlihat) maupun yang tampak dari luar. pada prinsipnya tumor dikelompokkan menjadi tumor ganas (malignant) dan tumor tidak ganas (benign).
Pengobatan tumor hanya bisa dilakukan dengan operasi. Tetapi apabila tumornya jenis yang tidak ganas, maka operasi tidak diperlukan, terkecuali kalau menyerang bagian tubuh yang mengganggu.
Sumber: Merpati.org
1. Penyakit Yang Disebabkan oleh Virus
- Newcastle Disease (ND)
- Paramyxovirus (sejenis ND)
- Pigeon Pox (patek)
- Herpesvirus
- Adenovirus
- Circovirus
- Arbovirus
Penyakit yang disebebkan oleh virus tidak bisa diobati dengan antibiotik, tetapi hanya bisa dicegah dengan cara vaksinasi. Penyebuhan hanya mengandalkan pada daya tahan tubuh untuk mengatasi berkembangnya virus tersebut. Pada saat daya tahan tubuh sudah mampu mengatasi, maka dengan sendirinya burung akan sembuh. Tetapi kalau anti-body tidak kuat burung akan mati.
Burung yang terkena penyakit yang disebabkan oleh virus bisa juga diberi anti-biotik berspektrum luas seperti Baytril atau Amoxyline. Tujuannya bukan untuk menyembuhkan penyakit tersebut, tetapi untuk mencegah munculnya infeksi sekunder akibat kondisi tubuh yg lemah. Burung yang terkena penyakit karena virus, yang terpenting dilakukan adalah diisolasi, jaga kebersihan kandang dan beri makanan yang berprotein untuk meningkatkan daya tahan tubuhnya. Kalau burung nggak mau makan bisa dibantu dengan spet cairan infus.
Jenis penyakit karena virus yang paling umum adalah ND/Paramyxovirus dan Pox (cacar).
2. Penyakit yang Disebabkan oleh Bakteri.
- Paratyphoid
- Mycoplasmosis
- Clamydiosis
- Pseudotuberculosis
- Aspergillosis
- Candidiasis
- Ulcerative Enteritis
- E-Coli
- Streptococus Bovis
Dari jenis penyakit tersebut di atas, yang paling umum dijumpai adalah
Paratyphoid, Clamydiosis, Streptococus Bovis dan E-Coli
3 Penyakit yang disebabkan oleh Protozoa
- Coccidiosis
- Trichomoniasis/Canker (Goham)
- Malaria
- Pseudomalaria
- Hexamitiasis
- Toxoplasmosis
- Leucocytozoonosis
Dari jenis penyakit tersebut di atas, yang paling umum adalah coccidiosis dan Canker (goham).
4. Penyakit yang disebabkan oleh parasit.
- Cacing Pita (tapeworm)
- Cacing Gelang(roundworm)
- Cacing Rambut.(hairworm)
5. Penyakit yang disebabkan oleh Ectoparasite (Kutu)
- Lice
- Mites
- Pigeon Fly
Sumber: Merpati.org
1. Goham (Canker)
Goham atau Canker merupakan penyakit merpati yang paling umum dijumpai. Penyakit ini sebenarnya semacam sariawan yang disebabkan oleh protozoa trichomoniasis. Karena penyakit ini paling umum dijumpai, maka apabila burung anda terlihat kurang fit, maka kecurigaan pertama adalah Goham.
Goham sangat mudah menyerang burung yang stress karena berbagai sebab, terutama stress karena kelelahan atau perjalanan jauh.
Goham bisa menyerang bagian tubuh mana saja mulai dari mulut sampai dubur seperti terlihat pada gambar di atas.
Mendeteksi Goham sebenarnya tidak terlalu sulit.Beberapa tanda-tanda goham yg paling umum adalah:
1. Ada bercak kuning di mulut, tetapi apabila goham menyerang organ bagian dalam tentu bercak kuning tidak terlihat. Untuk goham yang menyerang organ bagian dalam, maka mulut burung akan tercium bau busuk. Oleh sebab itu apabila ada burung yang terlihat kurang sehat, maka perlu diperiksa mulutnya dan dicium.
2. “Pinguin posture”, yaitu burung akan berdiri seperti pinguin atau bebek dengan badan terangkat seperti gambar piyik di atas.
3. Kotoran mencret dan berwarna hijau.
4. Banyak minum
5. Telih tidak turun,
6. Badan terasa berat (“lady feel”)
7. Bulu terlihat kering dan kusam.
Penularan goham adalah melalui kontak langsung dan air liur. Burung indukan yg kena goham maka saat meloloh akan menularkan kepada piyiknya. Oleh sebab itu, sebelum indukan meloloh perlu diberi obat anti-goham 1/2 dosis (3 hari). Burung yang sedang meliloh apa bila lolohannya tercecer di sarang maka piyiknya akan terkena goham di bagian dubur seperti gambar di atas (navel canker). Goham juga mudah menular melalui air minum. Oleh karena itu, burung yang terkena goham, tempat minum dan makannya di pisah. Lebih aman lagi, burung yang terkena goham diisolasi.
Kalau kita tidak yakin burung2 teman bebas dari goham, maka saat latihan bersama ada baiknya tempat minumnya tidak tercampur dengan burung orang lain. Ini penting terutama kalau kita maen balap atau kolongan.
Pengobatan goham bisa menggunakan anti biotik Metronidazole, Carnidazole, Ronidazole atau Dimetridazola. Metronidazole terbukti efektif mengatasi goham dan harganya pun relatif murah dan bisa didapat di apotik.
Dosis yang dianjurkan adalah 50 mg/hari. Karena saya agak ragu dengan kekuatan anti biotik yang beredar di Indonesia, bisa menggunakan dosis 75-100 mg. Jadi kalau kita pake Metronidazole 500 mg, maka 1 tablet bisa dibagi 4-6. Pengalaman saya belum lama ini diberi 1/6 tablet dan hanya dalam 2 hari goham sudah bersih. Meskipun goham sudah bersih, tetapi pemberian anti biotik dianjurkan 5-7 hari agar betul2 tuntas dan menghindari bakteri kebal.
Kalau kita membawa burung dari luar kota atau dari tempat lain ada baiknya diberi obat anti goham 1/2 dosis (3 hari). Untuk burung yang stress karena perjalanan jauh atau terlalu lelah, cukup diberi obat 1 kali saja.
Selain dengan obat tersebut bisa juga obat khusus burung semisal Terafit juga cukup efektif menyembuhkan goham.
2. Infeksi Saluran Pernapasan
Penyakit pada sistem pernapasan pada umumnya terjadi pada saat burung aktif dimainkan. Gejala yang umum terlihat pada burung yang terkenana infeksi saluran pernapasan adalah:
1. Pada stadium dini, mata terlihat berair dan pada stadium lanjutan mata seperti belekan seperti terlihat pada gambar di atas.
2. Keluar cairan dari hidung
3. Cere (bagian hidung yang berwarna putih) terlihat lembab dan kotor (tidak putih bersih)
4. Burung suka bersin dan menggaruk-garuk matanya dengan kaki.
5. Nafas terlihat berat (megap-megap.
6. Apabila mulut dibuka maka tonsil terlihat membengkak dan saluran pernapasan (windpipe) menyempit.
Beberapa faktor penyebab terjadinya infeksi saluran pernapaan antara lain:
1. Faktor lingkungan (kandang lembab, terlalu padat/overcrowding)
2. Faktor manajemen yang buruk (lembab, kualitas pakan, latihan yang berlebihan)
3. Faktor penyakit (bakteri, jamur, dan kutu)
Beberpa jenis bakteri penyebab infeksi saluran pernapasan antara lain Clamydiosis/ornithosis,Mycoplasama, Haemophilus. E-Coli pada stadium tertentu juga dapat menyebar pada sistem saluran pernapasan.
Serbuk jamur (Aspergillus Fumigatus) yang terhisap oleh merpati juga dapat menjadi faktor penyebab gangguan pernapasan. Dalam kandang yang lembab, jamur akan tumbuh dengan subur. Selain itu kutu (mites) yang masuk ke lubang hidung juga dapat menyebabkan infeksi saluran pernapasan.
Penularan infeksi saluran pernapasan adalah melalui kontak langsung dengan perantara air minum atau lendir yg keluar saat burung bersin. Bakteri penyebab infeksi saluran pernapasan pada umumnya bertahan hidup di luar tubuh burung selama 1 atau 2 hari. Pembersihan kandang dengan menggunakan disinfektan dapat mencegah penularan kepada burung lain.
Pengobatan burung yang terkena infeksi saluran pernapaan sangat tergantung pada penyebab dari infeksi tersebut. Namun apabila infeksi karena bakteri, maka obat yang direkomendasikan adalah doxycicline+tylosin dengan merek dagang Doxy-T (kalau tidak salah keluaran Oropharma) dan Enrofloxacine (Baytril). Anti-biotik derivatif tetracycline juga efektif mengatasi infeksi saluran pernapasan.
Untuk penggunaan Baytril dapat diberikan 3 tetes sebanyak 2 kali per hari selama 5-7 hari dan dapat diperpanjang sampai 10 hari atau bahkan lebih. Hanya menurut laporan riset terbaru, penggunaan Baytril secara intensif selain berpotensi menimbulkan kekebalan juga dapat mengganggu fertilitas, terutama pada burung betina.
Menurut Dr. Wim Peters, burung yang terkena infeksi saluran pernapasan dapat pula diberi suntikan streptomycin atau terramycin 1/2 ml. Menurut Peters, semakin keras burung memberikan reaksi kepada suntikan, maka penyembuhannya akan semakin cepat. Reaksi keras misalnya burung muntah atau pinsan. Tempo hari Mas Chito dan Mahardikabf menggunakan Medoxy. Kalau memang kandungan Medoxy adalah Doxycicline atau streptpmycin atau terramycin, maka bisa juga digunakan untuk penyembuhan infeksi saluran pernapasan.
3. Paratyphoid
Paratyphoid disebabkan oleh bakteri Salmonella Typhimurium. Paratyphoid umum dijumpai pada merpati dan dianggap lebih berbahaya dan mematikan dibandingkan penyakit goham dan saluran pernapasan. Burung piyik yang terkena paratyphoid sistem perncernakan dapat mati dalam waktu sangat singkat (mendadak). Bahaya lain dari paratyphoid adalah karena bakteri ini dapat hidup dalam periode yang sangat lama di luar tubuh burung sehingga sterilisasi kandang agak sulit. Paratyphoid juga bisa terbawa oleh burung lain yang masuk ke kandang kita, sehingga perlu kehati-hatian kalau membawa burung baru dari luar.
Paratyphoid dapat menyerang semua bagian tubuh seperti:
1. Saluran pencernakan.
Jika paratyphoid menyerang saluran pencernakan maka burung akan menunjukkan gejala tidak mau makan, badan terasa ringan (ampyang), kotoran mencret berwarna hijau dan kadang kalau berbusa. Selain, terkadang bulu leher berdiri seperti pada gejala burung yang terkena virus herpes.
2. Saraf otak (Miningel Form).
Apabila paratyphoid menyerang syaraf otak maka burung terlihat seperti kena ND (celeng). Bedanya, burung yang terkena paratyphoid kepalanya tidak muter hanya tidak bisa berdiri tegak seperti lehernya lumpuh (seperti dalam gambar). Sementara kalau ND burung kepalanya akan muter2 dan cenderung jalan-jalan.
3. Persendian (Join Form).
Apabila paratyphoid menyerang persendian maka akan menimbulkan bengkak. Biasanya persendian yang diserang adalah sapar, pergelangan kaki dan lutut seperti terlihat pada gambar.
4. Menyerang organ tubuh bagian dalam (Generalized atau Multi-organ Form).
Paratyphoid juga bisa menyerang organ tubuh yang lain termasuk alat reproduksi. Kematian bisa sangat cepat terjadi tanpa ada tanda-tanda klinis yang terlihat (mati mendadak). Sementara kalau menyerang sistem reproduksi akan menyebabkan burung mandul (steril). Kalaupun tetap bisa bertelur dan menetas, biasanya akan menimbulkan piyik cacat atau mati saat masih dalam bentuk embrio.
Pencegahan:
Karena Salmonella dapat hidup di luar tubuh cukup lama (bulanan), maka kebersihan kandang menjadi sangat penting. Secara teratur kandang harus disemprot/cuci dengan disinfektan. Hanya yang perlu diingat, jangan menggunakan disinfektan yang berbahan alkaline karena salmonella justru tumbuh subur di medium alkaline. Tempat makan dan minum juga sebaiknya dicuci dengan disinfektan yang mengandung clorine.
Cirilain dari Salmonella adalah tidak hidup di medium yang asam (acid). Oleh karena itu, sekali-sekali kandang perlu disemprot/dicuci dengan air yg asam (acidifying). Ini bisa dilakukan dengan mencampur air untuk mencuci dengan cuka makan (5%). untuk 1 liter air dicampur dengan 1 sendok makan cuka (10 ml).
Hati-hati memasukkan burung dari luar. Apabila ada keragu-raguan tentang burung baru yg masuk, sebaiknya dikarantina dulu dan diberi baytril selama 3 hari (1/2 dosis). Burung baru juga bisa dimandikan dengan air yg dicampur sedikit cuka dan garam. Memandikan burung dengan air yang dicampur cuka dan garam selain mencegah paratyphoid juga baik untuk kesehatan bulu dan mencegah kutu. Campuran air untuk mandi adalah 10 ml cuka + 1 sendok makan garam untuk 4 liter air (1 gallon).
Apabila dalam kandang sudah ada kasus burung yang terkena paratyphoid dalam jumlah cukup banyak (3 % dari jumlah burung) atau sering terjadi kasus paratyphoid, maka untuk pencegahan semua burung, air minum dapat diberi Baytril dengan campuran 1 mil untuk 1 liter air selama 5 hari. Dan setelah itu perlu diberi probiotik selama 3-5 hari.
Pengobatan:
Sampai saat ini Baytril masih diangggap obat paratyphoid yang paling efektif dengan dosis 3 tetes 2 kali setiap hari selama 7-10 hari dan bisa sampai 14 hari. Antibiotik lain yang dianjurkan adalah amoxycillin. Kelabihan Amoxycillin dari Baytril adalah Amoxycillin tidak mengganggu fertilitas sehingga dapat digunakan pada saat menjelang masa breeding (untuk preventif). Selama dalam pengobatan dianjurkan untuk diberi vit B-Complex
Apabila persendian sudah bengkak atau leher tengleng, anti biotik tidak akan menyembuhkan bengkak dan celeng. Perlu treatment lain setelah paratyphoidnya sembuh. Tetapi burung yg sudah terkena paratyphoid cukup parah tidak direkomendasikan untuk jadi racer atau breeder. Kalaupun jadi babuan, dikhawatirkan juga akan menulari piyiknya. Jadi lebih baik disingkirkan saja untuk selamanya
4. COCCIDIOSIS
Coccidiosis adalah infeksi saluran pencernakan yang disebabkan oleh protozoa/parasit Cocidia. Infeksi ini bisa menyerang semua jenis binatang. Untuk merpati, infeksi disebabkan Cocidia jenis Eimeria Colombanum dan Emiria Labbeana. Cocidia merusak sel dinding usus namun apabila jumlah Cocidia dalam dinding usus tidak terlalu banyak maka burung tidak akan terlihat sakit. Apabila burung mengalami stress atau daya tahan tubuhnya menurun akibat infeksi yang lain, maka jumlah Cocidia akan berkembang pesat. Gejala burung yang terkena adalah kotoran encer berwarna hijau kecoklatan, bebau menyengat dan apabila sudah parah ada seperti bercak darah. Karena kerusakan terjadi pada sel dinding usus, maka burung juga berpotensi kena anemia. Itu sebabnya rongga mulut terlihat pucat.
Penularan cocidiosis seperti cacing, yaitu melalui kotoran. Telur cocidia akan terbawa bersama kotoran dan apabila tercampur dengan makanan akan menular. Di dalam tubuh, telur cocidia akan menetas dan berkembang biak. Lingkungan yang mendorong berkembangnya cocidia adalah kandang yang lembab dan hanyat dengan temperatur sekitar 28 derajat C.
Karena penularannya melalui kotoran, maka pencegahannya adalah menjaga kebersihan kandang. Upayakan makanan dan minuman jangan sampai terkena kotoran burung.
Obat cocidiosis untuk binatang lain bisa juga untuk merpati. Hanya perlu penyesuaian dosisnya saja. Derivatif Sulfonamide efektif untuk mengatasi cocidiosis. Obat lain yang juga direkomendasikan adalah Sulfaquinoxalin, Sulfadimethoxine dan Sulfaclorpyrazine. Pemberian obat selama 3 hari.
5. COLIBACILLOSIS
Colibacillosis adalah infeksi yang disebabkan oleh bakteri Escherichia Coli atau lazim disebut dengan E-Coli. Bakteri ini pada umumnya berada di saluran pencernakan tetapi bisa juga menyebar ke organ tubuh yang lain. Bakteri E-Coli pada dasarnya dijumpai di manusia dan hewan. Ada sejumlah strain E-Coli dari yang tidak berbahaya sampai yang menyebabkan sakit. Jika jenis atau strain E-Coli adalah jenis yang tidak berbahaya dan dalam jumlah yang tidak banyak, maka bakteri ini tidak menyebabkan burung sakit.
Masalah akan timbul apabila strain bakteri yang ada dari jenis yang berbahaya dan dalam jumlah yang berlebihan.
Apabila E-Coli menyerang sistem pencernakan maka gejala yang terlihat adalah burung diare dengan kotoran berwarna hijau dan putih dimana warna putihnya menyebar (Pada burung yg sehat, warna putuh akan mengelompok). Karena diare yang hebat, maka pantat burung akan basah. Ciri lain dari burung yang terinfeksi E-Coli adalah kotoran berbau menyengat.
Apabila C-Coli menyebar ke sistem reproduksi maka akan menyebabkan burung infertil, telur hitam tetapi tidak menetas atau warna putih (bening). Terkadang, cangkang telur juga lembek seperti kekurangan kalsium. E-Coli juga dapat menyebar ke ginjal, hati atau pankreas yang berdampak pada memperlemah kinerja burung (weakening factor)
Gejala lain yang umum adalah burung menjadi kurus dan “ampyang” karena infeksi di sistem pencernakan. Pada stadium tertentu (cukup parah) burung akan banyak minum dan muntah.
E-Coli sering kali menyerang piyik yang berumur antara 7-15 hari. Jika ini terjadi maka menyebabkan piyik mati tiba2.
Sebagai bakteri, maka E-Coli akan tumbuh subur di lingkungan yang lembab dan kotor. Karena E-Coli pada umumnya terdapat pada sistem pencernakan, maka penularan terjadi melalui kotoran.
Pencegahan E-Coli dapat dilakukan dengan menjaga kandang agar tetap bersih dan kering, membersihkan alat minum dan makan dengan air campur cuka, pemberian probiotik secara teratur (2X seminggu), mencampur air minum dengan sedikit cuka apel, menghilangkan faktor penyebab stress (umumnya kandang terlalu padat dan latihan yang berlebihan).
Antibiotik berspektrum luas seperti amoxyciline pada prinsipnya efektif untuk mengatasi E-Coli. Namun akhir2 ini ditemukan bahwa penggunaan antibiotik mulai kurang efektif akibat cara pemberian antibiotik yang tidak benar (dosis yg tidak tepat). Penggunaan antibiotik harus hati2 karena dapat juga membunuh bakteri yg diperlukan oleh tubuh (bakteri yg baik).
Untuk mengatasi E-Coli lebih baik dengan mencegah, khususnya menjaga kebersihan kandang, menghilangkan faktor stress dan pemberian probiotik atau cuka apel secara teratur.
6. TUMOR
Tumor sangat umum dijumpai pada merpati, baik yang menyerang organ tubuh bagian dalam (tidak terlihat) maupun yang tampak dari luar. pada prinsipnya tumor dikelompokkan menjadi tumor ganas (malignant) dan tumor tidak ganas (benign).
Pengobatan tumor hanya bisa dilakukan dengan operasi. Tetapi apabila tumornya jenis yang tidak ganas, maka operasi tidak diperlukan, terkecuali kalau menyerang bagian tubuh yang mengganggu.
Sumber: Merpati.org
Minggu, 19 Desember 2010
Langganan:
Postingan (Atom)